Tampilkan postingan dengan label Info Sepotong. Tampilkan semua postingan

RPC Sepotong Sulit Beroperasi

Kamis, 24 Mei 2007

BENGKALIS—Banyak kalangan mengatakan, kalau kompleks penggilingan padi atau Rice Procesing Complex (RPC) Sepotong di kecamatan Siak Kecil, Bengkalis sulit untuk beroperasi. Mengingat lahan persawahan di kawasan itu sudah banyak yang beralih fungsi dari lahan padi menjadi perkebunan karet dan sawit.

“Saya lihat sudah banyak lahan persawahan di kawasan RPC Sepotong dan sekitarnya sudah beralih fungsi. Padahal kalau RPC beroperasi, butuh gabah yang cukup banyak. Setiap minggunya lebih kurang 240 ton. Tapi kalau lahan mulai berkurang, tentunya sulit sekali beroperasi secara normal,” ujar H Azmi Rozali Fatwa, SIp anggota DPRD Bengkalis asal pemilihan Bukit Batu, Siak Kecil dan Merbau belum lama ini.

Sejak awal, Pemerintah Kabupaten Bengkalis dan pihak pengelola RPC menyatakan kapasitas mesin RPC Sepotong sebanyak 6 ton gabah per jam (direncanakan akan beroperasi 8 jam per hari, red). Berarti gabah yang dibutuhkan RPC selama seminggu sekitar 240 ton (dengan perhitungan 6 ton x 8 jam x 5 hari). Dalam setahun, kapasitas gabah yang dibutuhkan agar RPC terus beroperasi sebanyak 11.520 ton (240 ton x 4 minggu x 12 bulan).

Jika melihat jumlah kapasitas yang dibutuhkan mencapai 240 ton perhari, timbul pertanyaan apakah produksi yang ada di Sepotong bisa menopang keberadaan RPC. Meningat, sistem budidaya padi di kawasan itu masih menghandalkan sawah tadah hujan yang hanya satu kali tanam dalam setahun. Asumsi rata-rata produksi gabah dalam satu hektar hanya sekitar 3 ton. Jika melihat kebutuhan pertahun, maka luas lahan produktif tanaman padi yang dibutuhkan untuk memenuhi RPC Sepotong sekitar 3.800 hektar lebih.

“Sepertinya untuk mendapatkan lahan seluas 3.800 ha sulit. Karena fakta di lapangan luas areal persawahan di kawasan sentra produksi padi Desa Sepotong semakin berkurang. Terlihat makin berkurang karena pemiliknya telah mengalihkan lahan menjadi kebun kelapa sawit dan karet,”Ujar Azmi.

Hal senada diungkapkan anggota DPRD dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Firmansyah Putra. Dinilai, sejak awal pembangunan RPC sangat terburu-buru, tanpa perencanaan yang matang. Semestinya, sebelum mendirikan sebuah pabrik yang membutuhkan bahan baku dalam jumlah besar, harus ditunjang dengan ketersedian bahan baku yang ada. Salah satunya mencetak lahan persawahan dalam jumlah luas dengan sistem perairan (irigasi) memadai.

“Bukan seperti saat ini. Pabrik (RPC, red) sudah berdiri. Tapi saat akan berproduksi, tidak ada bahan baku. Akibatnya sampai saat ini keberadaan RPC belum memberikan manfaatnya bagi daerah dan masyarakat di sekitarnya,” ungkap anggota DPRD Bengkalis asal pemilihan kecamatan Merbau, Bukit Batu dan Siak Kecil.

Ditegaskan Firmansyah Putra, jika RPC tetap menghandalkan komiditi padi dari petani di kawasan itu tampaknya sulit terpenuhi. Meningat fenomena masyarakat selama ini, tidak mau menjual gabah kepada pihak lain. Petani selama ini lebih dominan menyimpan padinya di lumbung untuk kebutuhan pangan keluarga selama satu tahun mendatang. Selain itu, di wilayah Kecamatan Siak Kecil sudah tersedia 15 unit Rice Milling Unit (RMU) milik masyarakat yang bahan bakunya berasal dari hasil panen padi milik petani setempat. (auf)